Latest Updates

Tujuan dan Nilai dalam Tema "Mencintai Lingkungan Hidup"

Mencintai Lingkungan Hidup
Tujuan pendampingan, Pengetahuan dan Nilai yang Ditanamkan dalam Tema Mencintai Lingkungan Hidup

* Menumbuhkan cinta lingkungan hidup sebagai wujud terima kasih dan syukur kepada Allah yang telah menciptakan dan menganugerahkan lingkungan hidup sebagai tempat hidup, berlindung, beraktivitas, dan bermain bagi kita.
* Sejak dini, membangun dan melatih anak-anak untuk memiliki kepedulian kepada lingkungan hidup, siap menjaga keutuhan lingkungan hidup sebagai upaya untuk melestarikan lingkungan dan membuatnya lebih sehat, aman, dan nyaman bagi kehidupan anak cucu di masa depan.

Istilah/pengetahuan/nilai yang diperkenalkan dan ditanamkan

• Istilah-istilah yang kami perkenalkan dan banyak digunakan dalam aktivitas pendampingan: menyadari cinta kasih Tuhan, alam ciptaan, mensyukuri alam ciptaan, memelihara alam ciptaan, cara kerja alam, melestarikan lingkungan hidup, daur ulang, daur ulang limbah, hasil daur ulang

• Pengetahuan yang ingin disampaikan adalah bahwa pada mulanya alam diciptakan baik adanya, namun saat ini sudah mengalami banyak kerusakan.

• Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upaya untuk tidak memperparah kerusakan lingkungan yang telah terjadi, mengingat lingkungan hidup ini adalah pemberian Tuhan yang harus kita jaga dan lestarikan.
Upaya-upaya sederhana seharusnya mulai diperkenalkan dan dilatihkan kepada anak-anak, seperti membuang sampah pada tempatnya, menanam tanaman dan tidak memetik tanaman dengan sembarangan, memanfaatkan barang bekas, hemat energi dengan mematikan lampu atau listrik yang tidak digunakan, memanfaatkan sinar matahari untuk penerangan di siang hari, serta berperan serta mengurangi polusi udara dengan cara lebih sering berjalan kaki atau naik sepeda. Bisa juga dengan menggunakan sumber-sumber alam, seperti air maupun produk-produk olahan hasil alam dengan hemat, dan tak lupa, tetap berperan serta dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Mencintai Lingkungan Hidup
• Nilai yang ditanamkan adalah kita sebagai citra Allah diserahi tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan alam semesta. Hendaknya kita melaksanakan tanggung jawab tersebut dengan sepenuh hati. Jika masing-masing dari kita mau dan mampu untuk menjaga dan melestarikannya tidak mustahil keindahan dan kenyamanan lingkungan hidup seperti semula dapat kita rasakan kembali. Peran kita untuk lingkungan hidup, walaupun kecil dan sederhana, sungguh sangat bermakna apalagi jika kita dapat menularkan dan mendorong orang lain untuk melakukannya juga.








Tujuan Pendampingan dan Nilai yang Ditanamkan Tema 5 "Akrab dan Damai"
Tujuan Pendampingan dan Nilai yang Ditanamkan Tema 4 "Aku Bisa Kamu Juga Bisa"
Tujuan Pendampingan dan Nilai yang Ditanamkan Tema 3 "Mencintai Lingkungan Hidup"
Tujuan Pendampingan dan Nilai yang Ditanamkan Tema 2 "Biar Beda Tetap Bersahabat"
Tujuan Pendampingan dan Nilai yang Ditanamkan Tema 1 "Ke Gereja Yuk"


Latar Belakang Tema Tema 5 "Akrab dan Damai"
Latar Belakang Tema Tema 4 "Aku Bisa Kamu Juga Bisa"
Latar Belakang Tema Tema 3 "Mencintai Lingkungan Hidup"
Latar Belakang Tema Tema 2 "Biar Beda Tetap Bersahabat"
Latar Belakang Tema Tema 1 "Ke Gereja Yuk"


Daftar Isi Tema 5 "Akrab dan Damai"
Daftar Isi Tema 4 "Aku Bisa Kamu Juga Bisa"
Daftar Isi Tema 3 "Mencintai Lingkungan Hidup"
Daftar Isi Tema 2 "Biar Beda Tetap Bersahabat"
Daftar Isi Tema 1 "Ke Gereja Yuk"


Latar belakang Tema "Mencintai Lingkungan Hidup"

Poster Mencintai Lingkungan Hidup
Bencana alam yang terjadi di mana-mana dewasa ini ternyata merupakan akibat ulah manusia yang tak bertanggung jawab. Ada sebagian manusia yang rakus dan tidak peduli terhadap sesamanya telah menggunduli hutan untuk dikuras kayunya, mencemari sungai dengan limbah industri dan limbah rumah tangga, mencemari udara dengan asap kendaraan bermotor, dan sebagainya. Hal semacam ini menjadi perilaku orang zaman sekarang dan dampaknya sungguh merugikan orang-orang di lingkungan sekitar.

Sementara itu, masih banyak anak yang perlu dibuka kesadarannya bahwa dampak kerusakan lingkungan hidup itu sudah amat dirasakan belakangan ini, termasuk di antaranya intensitas terjadinya banjir yang semakin meningkat, udara yang semakin panas, cuaca yang semakin tidak menentu, badai dan bencana alam lainnya, sulitnya air bersih terutama di kota-kota besar, tumpukan sampah yang menggunung di jalan dan sungai-sungai, serta hutan-hutan yang semakin gundul. Oleh karena itu, sejak dini haruslah dibangun sikap, semangat dan perilaku menjaga lingkungan hidup sebagai upaya melestarikan keutuhan ciptaan.

Baca juga:

Latar belakang Tema "Biar Beda Tetap Bersahabat"

Poster Biar Beda Tetap Bersahabat
Perbedaan adalah hal yang amat biasa di alam semesta ini. Tanpa adanya perbedaan betapa akan menjemukan keadaan alam semesta. Dengan adanya perbedaan memungkinkan variasi yang menyenangkan. Kenyataan yang ada di dunia ini menunjukkan bahwa walaupun ada perbedaan manusia satu sama lain saling membutuhkan dan melengkapi.

Namun sayangnya, manusia cenderung berteman dan bergaul dengan orang-orang yang sesuai dengan keinginannya, entah dalam hal minat, hobi, keyakinan ataupun agama. Ada sebagian orang yang beranggapan bahwa siapa saja yang tak termasuk kelompoknya bukanlah teman atau saudaranya. Jika sikap semacam ini yang dihayati oleh banyak orang, maka pertentangan atau pertengkaran di manamana akan mudah terjadi. Kebalikan dari sikap ini ialah kesiapan menerima perbedaan bukan sebagai masalah tetapi sebagai hal yang wajar, mengingat kita hidup dalam dunia yang penghuninya berasal dari berbagai suku dan budaya; menganut berbagai agama dan aliran kepercayaan; mempunyai beragam ciri fisik dan tingkat ekonomi; dan terdiri dari dua jenis kelamin.

Dari semua perbedaan yang disebutkan di atas, akhir-akhir ini perbedaan agamalah yang paling mudah atau paling sering menimbulkan masalah. Ada banyak agama dan aliran kepercayaan di Indonesia, baik agama Katolik, Kristen, Islam, Hindu, Budha, Khonghucu, dan berbagai aliran kepercayaan. Masing-masing agama dan aliran kepercayaan itu memang memiliki keunikan dan tata cara beribadat yang berbedabeda, namun sebenarnya pribadi mahatinggi yang disembah oleh berbagai agama dan kepercayaan itu satu dan sama. Karena sebagai manusia kita diciptakan oleh pribadi ilahi yang sama, maka bisa juga kita meyakini bahwa semua manusia, apapun agama dan kepercayaannya, adalah sama-sama keturunan Adam dan Hawa yang dulu diciptakan Allah dan ditempatkan di Taman Eden. Dengan demikian, semua manusia itu sebenarnya satu saudara, sama-sama citra Allah dan sama pula martabatnya.

Karena kita semua adalah saudara, walaupun di antara kita terdapat berbagai perbedaan, kita semua layak berada dalam kesatuan seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri Negara Republik Indonesia. Cita-cita persatuan dan kesatuan itu telah dituangkan melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 45 yang berarti ”Walaupun Berbeda-beda tetapi Tetap Satu Jua”.

Adanya perbedaan, jika hal itu diterima sebagai hal yang wajar maka tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika perbedaan itu ditolak dan ada yang mau menyeragamkan, mulailah ada masalah karena yang satu akan merasa lebih tinggi dan yang lain direndahkan. Kita sebagai citra Allah yang merupakan satu saudara keturunan Adam dan Hawa, dan sebagai warga negara Indonesia yang telah dipersatukan dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” sebaiknya sejak dini menumbuhkan dan memupuk kesadaran untuk menghargai semua orang dan mempererat persahabatan tanpa mempermasalahkan perbedaan-perbedaan yang ada. Itulah makna ”Biar Beda Tetap Bersahabat”.

Baca juga:


Latar belakang Tema "Aku Bisa Kamu Bisa"

Latar belakang Tema Aku Bisa Kamu Bisa

Poster Aku Bisa Kamu Bisa
Kecenderungan umum yang mudah dijumpai dalam diri anak ialah segala sesuatu cepat tersedia. Mereka hanya mau memetik hasil tanpa menyadari bahwa segala sesuatunya perlu diupayakan dengan tekun (mau berjerih payah). Pentinglah, sejak dini ditaburkan dalam diri anak semangat mau menanam, menumbuhkan, dan memelihara sampai dapat memetik hasilnya, sehingga dia tidak hanya memetik hasil tetapi juga rela atau berani mengupayakan. Dalam diri anak diharapkan tumbuh semangat “berproduksi” dan bukan sekedar “mengonsumsi”, tekun belajar guna mencapai cita-cita atau sikap mau berjerih payah guna mencapai keberhasilan, tidak egois atas apa yang sudah dicapainya dan mau menolong teman-temannya yang belum mencapai keberhasilan. Anak dapat bergembira bersama atas keberhasilan teman-temannya berkat bantuannya. Maka, dalam diri anak perlu ditanamkan sejak dini semangat merasa gembira setelah melakukan hal yang baik sehingga dia bergairah untuk melakukan kebaikan dengan mengajar atau melatih teman yang belum mampu (bukan hanya merasa senang atau bergembira kalau menerima sesuatu dari orang lain).

Untuk memungkinkan dan memudahkan anak mau menolong temannya yang belum berhasil, sebelumnya perlu ditumbuhkan “semangat berbagi” yaitu rela (tidak kikir) membagikan yang telah dicapainya kepada orang lain, sehingga keberhasilan tersebut dapat dinikmati bersama dalam rasa syukur dan kehangatan persaudaraan. Tanpa ini, anak akan membiarkan saja teman-temannya ketinggalan atau bahkan menjegal temannya yang hampir berhasil, agar ia tetap menempati kedudukan terunggul. Anak perlu dilatih dan disadarkan bahwa dengan membagikan kemampuannya (keterampilan dan pengetahuan), ia akan semakin unggul dengan kemampuannya itu. Tanpa memiliki semangat berbagi, ada bahaya bahwa anak ini, setelah berhasil menjadi orang “sukses”, tetap egois atau hanya mengejar kepentingan dirinya sendiri tanpa peduli dan tidak bersedia menolong yang mengalami kesulitan. Semangat berbagi diharapkan dapat
mendasari semangat anak untuk mengajar dan melatih teman-temannya berdasarkan inspirasi Yoh 6:1-15, yaitu anak kecil yang menyerahkan 5 roti dan 2 ikannya kepada Yesus untuk dibagi-bagikan kepada
orang-orang lapar yang ada di sekitarnya. Semangat anak kecil inilah yang mau diperkenalkan kepada anak-anak peserta pendampingan iman anak (BIAK, Sekolah Minggu) dan sebagainya.

Tema “Aku bisa, kamu juga bisa” diharapkan dapat membuahkan orang-orang yang senang berbagi kemampuan (pengetahuan dan keterampilan) dan membuahkan insan-insan pendidikan, baik dalam lingkup
informal maupun formal, lingkup keluarga maupun sekolah, masyarakat maupun Gereja. Sikap pokok ini perlu dipahami dan dihayati oleh para pendamping pendampingan iman anak sehingga siap memperkenalkan
dan menumbuhkannya pada anak-anak yang didampingi.

Melalui gambar-gambar ditunjukkan contoh:
1. kegiatan dalam keluarga yang saling berbagi kemampuan dan pengetahuan, baik antara anak dengan orangtuanya, anak dengan kakaknya, maupun anak dengan adiknya,
2. kegiatan dalam lingkup sekolah yang saling berbagi kemampuan dan pengetahuan, baik antara anak dengan gurunya maupun anak dengan teman-temannya, dan
3. kegiatan dalam lingkungan bermain yang saling berbagi kemampuan dan pengetahuan, baik antara anak dengan teman sebaya, anak dengan teman yang lebih tua, maupun anak dengan teman yang lebih muda.

Baca juga:



Latar Belakang Pemikiran Tema "Akrab dan Damai"

Latar Belakang Pemikiran Tema

TENTANG AKRAB DAN DAMAI

Buku Panduan Akrab dan Damai
Hidup itu amatlah berharga. Oleh karena itu manusia selalu berusaha mempertahankan hidupnya. Kalau sakit atau terancam nyawanya ia akan selalu mencoba untuk mempertahankan hidupnya dengan berobat, perawatan, dan kalau perlu dengan senjata untuk mempertahankan hidupnya.

Masyarakat kita sangat menjunjung tinggi kehidupan. Oleh sebab itu, mereka berusaha mengamankan hidupnya (dengan menjaga hubungan yang selaras) dengan sesamanya,  dengan lingkungannya, dan dengan dunia adikodrati. Mereka juga berusaha melanggengkan hidupnya melalui keturunan. Kehidupan itu sungguh bernilai. Manusia tidak akan menyia-nyiakannya atau mempertukarkannya dengan hal-hal yang lain.

Pertanyaan mengenai makna hidup bukanlah hal yang baru. Pertanyaan itu selalu ada namun demikian, tampaknya pertanyaan itu menjadi jauh lebih sulit bagi manusia dewasa ini. Sebab kini manusia hidup di tengah-tengah lingkungan dunia yang terlampau luas. Bahkan tak terjangkau lagi olehnya. Terlebih lagi dewasa ini banyak sekali tawaran yang menyodorkan jawaban yang berbeda-beda. Bidang kehidupan seperti bekerja, keluarga, rekreasi, hubungan antar manusia dan sebagainya sering terasa tidak berhubungan lagi satu dengan yang lainnya.

Di dalam dunia yang semakin berkembang ini manusia dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan tentang perkembangan dunia modern, tentang tempat dan peranan manusia di alam semesta, tentang arti usaha-usaha baik secara perorangan ataupun bersama-sama dan akhirnya tentang tujuan akhir dunia dan manusia ini.

Manusia bukan hanya penghuni dunia dan alam semesta. Manusia mengolahnya, hidup darinya, dan bertanggung jawab atasnya. Oleh karena itu, manusia diberi kepercayaan untuk ikut “menciptakan” dunia, maka dunia harus senantiasa baru dan harus sesuai dengan tujuan hidup manusia. Dalam dunia macam ini Tuhan mempercayakan manusia mengurus dunia ini sendiri.

Akhir-akhir ini, sikap kasar terhadap hidup, cukup merebak di tanah air kita. Anak-anak muda sepertinya tertarik terhadap film-film, berita-berita, dan peristiwa-peristiwa yang bernafaskan kekerasan. Hal-hal seperti ini perlu diwaspadai diantisipasi penanganannya secara lebih dini dan tepat.

Mengupayakan keadaan yang damai merupakan kewajiban orang Kristen dalam mewujudkan iman mereka akan Kristus yang adalah “damai sejahtera kita” yang “merubuhkan tembok pemisahan, yaitu perseteruan” dan yang mengajar para pengikutnya: “Berbahagialah yang membawa damai” (Mat 5:9).

Baca juga:


Latar belakang Tema "Akrab dan Damai"

Buku Panduan Akrab dan Damai
Dewasa ini di segala bidang kehidupan banyak situasi yang sangat memprihatinkan seperti, terjadinya perselisihan, pertikaian, permusuhan, kekerasan, dan sebagainya, antara yang mayoritas dengan yang minoritas, antara yang kaya dengan yang miskin, bahkan antar suku, agama, dan ras (istilahnya SARA).

Situasi seperti ini menjadikan relasi antar pribadi menegangkan, tidak nyaman, tidak membawa kehagiaan, bahkan menimbulkan kecemasan. Orang menjadi takut untuk berelasi dan berkomunikasi dengan sesamanya karena ada kecurigaan satu sama lain. Orang berada dalam situasi terkotak-kotak satu sama lain, bahkan beranggapan bahwa orang yang tidak seagama, sealiran, sepaham dianggap musuh yang harus disingkirkan dan dihancurkan.

Situasi seperti di atas juga menjangkiti kehidupan anak zaman sekarang. Anak kurang menaruh hormat kepada orangtua, kurang dapat menghargai orang yang lebih tua, tidak dapat bersahabat dengan temannya, tidak dapat berkata halus dan sopan dengan orang lain, melakukan tindak kekerasan kepada teman yang miskin atau lemah dan sebagainya. Mengapa hal itu terjadi? Jawabannya antara lain karena anak hampir setiap hari dipengaruhi acara televisi, video game (play station), dan game online yang menyuguhkan kekerasan. Selain itu, ini masih ditambah lagi dengan pengaruh suasana dalam keluarga sendiri atau masyarakat yang cenderung juga melakukan kekerasan seperti itu.

Apa yang perlu dilakukan untuk membantu anak dalam mengatasi kecenderungan buruk yang justru semakin bertambah ini? Untuk itu, baiklah kalau sejak dini anak disadarkan untuk membangun dan mengembangkan semangat akrab dan damai dalam hidupnya sendiri, keluarganya, dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Keakraban dan kedamaian inilah yang perlu bisa dialami dan dihayati oleh anak dalam hidupnya sehari-hari. Anak akan bisa akrab dengan sesamanya kalau ia mampu berelasi dan berkomunikasi dengan baik dan hangat. Berkat keakraban ini anak akan bisa mengalami damai yang membahagiakan, sehingga anakpun akan bisa merasa nyaman dan bahagia hidup bersama orang lain. Lebih dari itu, anak juga memiliki kecenderungan melakukan hal-hal positif terhadap dan bagi orang lain sehingga membahagiakan hidup bersama.

Baca juga:


Latar belakang Tema "Ke Gereja Yuk!"


Makna Baptisan
Anak-anak Katolik kenyataannya sudah dibaptis tanpa mereka sadari. Mereka ini perlu dibantu menyadari baptisan yang telah diterimanya sehingga merasa senang dan bangga akan kondisi berahmat itu, mensyukurinya serta tergerak untuk berusaha hidup sesuai rahmat baptisan yang telah diterimanya.

Tanpa bantuan proses penyadaran ini, ada bahaya di kemudian hari mereka menyalahkan orangtuanya yang telah mengupayakan baptisan bagi dirinya dan beranggapan bahwa orangtuanya telah melanggar hak asasinya dalam hal pemilihan agama, manakala mereka mengalami keadaan yang dirasa tidak menguntungkan berkaitan dengan baptisan yang telah diterimanya. Sikap semacam ini akan membuat orang yang bersangkutan tidak kerasan dengan agama yang telah dipilihkan oleh orangtuanya dan membawa mereka menjadi orang yang hanyut saja pada rutinitas hidup beragama tanpa usaha menghayatinya. Suatu keadaan yang cenderung membuat seseorang menjadi penonton belaka dalam kehidupan beragamanya termasuk ketika menghadiri perayaan Ekaristi yang setiap hari Minggu mesti dilakukannya.

Menanggapi kenyataan ini anak-anak Katolik selain perlu mendapat pemahaman akan makna baptis, perlu pula mendapat pemahaman latar belakang diterimanya baptis dan tujuan menerima baptis, beserta konsekuensi mereka yang sudah menerima baptis. Tentu saja pengetahuan sejauh masih berada dalam jangkauan usia anak-anak.

Merayakan Ekaristi
Selain itu, dewasa ini ternyata cukup banyak orang Katolik dan anak-anak yang ”nonton” Misa di gereja dan ”belum” merayakan Ekaristi. Kurang memadainya pemahaman mereka akan makna Ekaristi beserta seluk beluknya kiranya menjadi faktor penyebab keadaan yang memprihatinkan ini. Kurang memadainya pemahaman mereka akan makna Ekaristi dan seluk beluknya membuat mereka cenderung kurang terlibat di dalam Ekaristi dan tingkah lakunya dalam perayaan Ekaristi sering hanya didominasi oleh rasa senang atau tidak senang belaka. Mereka ini maunya ”menonton”, enggan melakukan ”renungan” sehingga pada gilirannya tidak memetik manfaat Ekaristi bagi dirinya sendiri, imannya pun cenderung tetap dangkal. Lebih disayangkan lagi, mereka biasanya kurang peduli akan tugas perutusan yang diterima dari Tuhan pada akhir Perayaan Ekaristi sehingga tak mengherankan bahwa Ekaristi yang diikutinya tidak berdampak dalam hidup sehari-harinya. Akibat lebih lanjut, terjadi pemisahan antara kehidupan ibadatnya dengan kehidupan sehari-hari dan kesadaran imannya tak mewarnai kata-kata, tingkah laku dan tindakantindakan dalam hidupnya.

Menanggapi keadaan tersebut, disusunlah bahan pendampingan bagi anak-anak Katolik ini agar mereka paham akan Ekaristi beserta seluk-beluknya sehingga dengan demikian mereka senang berliturgi Ekaristi dan terlibat aktif di dalamnya, termasuk juga rela melaksanakan tugas perutusan yang diterima setelah orang mendapat berkat dari Tuhan sebagai bekal perutusannya.

Baca juga:


Judul dan Tema Seri Emmanuel

Seri Emmanuel sebagai sebuah program pendampingan iman anak kristiani tersaji dalam lima buah judul sebagai paket-paket program yang mandiri. Namun kelima judul itu, satu sama lain, terhubung oleh sebuah kepentingan pembentukan karakter anak kristiani yang riang gembira, bersahabat, mampu bersikap dan bertindak sesuai imannya. Kelima judul tersebut disarikan dari pelbagai keprihatinan gereja Indonesia dan umat saat ini yang secara kompak dikenalkan dalam paket-paket pendampingan multidimensi agar sejak dini anak-anak dapat mengungkapkan dan mewujudkan imannya dengan bangga.

1. Ke Gereja, Yuk!

Baptisan!
Ke Gereja Yuk...!
Ada sebagian umat Katolik yang cenderung menonton perayaan Ekaristi, bukan ikut terlibat merayakan nya. Kurang memadainya pemahaman akan Ekaristi dengan seluk beluknya, menjadi salah satu faktor penyebab keadaan yang memprihatinkan ini. Dampak domino dari masalah ini, orang tidak terlibat dan hanya mengandalkan perasaan belaka dalam berliturgi sehingga akan semakin dangkallah kesadaran imannya.

Fokus pendampingan dalam pokok bahasan ini adalah mengenalkan dan mengajak anak-anak semakin dekat dan mencintai Gereja, serta senang berliturgi (ke gereja) karena memahami dan dapat memetik manfaat dari keterlibatannya dalam liturgi (Perayaan Ekaristi) yang akan memperkuat hidup berimannya.

Untuk memperlancar proses pendampingan, yang disesuaikan dengan kemampuan dan usia anak, dipilih tema yang paling banyak berhubungan dengan kehidupan anak sehari-hari, yaitu “Baptis” dan “Ekaristi”. Baptis merupakan awal seseorang masuk dan diterima sebagai warga Gereja dengan segala perutusan hidup yang diterima. Sedangkan Ekaristi merupakan wujud karya penyelamatan Allah terhadap manusia.

Baca juga: Latar belakang Tema "Ke Gereja Yuk!"

2. Biar Beda Tetap Bersahabat
Biar Beda Tetap Bersahabat
Keretakan hidup berbangsa nampak jelas antara lain dari konflik-konflik antar penganut agama yang lebih mementingkan kepentingan agamanya sendiri dan cenderung menganggap kelompok atau golongan lain sebagai musuh. Padahal warga negara Indonesia dari Sabang-Merauke sungguhsungguh Bhinneka dari segi agama, keyakinan, fisik, suku, maupun etnis dan berbagai perbedaan itu sebenarnya lebih merupakan kekayaan daripada bencana.

Materi dalam buku ini ditujukan untuk membekali anak-anak agar mereka dapat menerima adanya perbedaan sebagai hal yang wajar, mampu menghargai perbedaan, mau bersahabat dengan temanteman yang berbeda, dan bisa merasa tenang bila mendapat perlakuan negatif dari mereka yang berbeda namun belum bisa menghargai perbedaan.

Baca juga: Latar belakang Tema "Biar Beda Tetap Bersahabat"

3. Mencintai Lingkungan Hidup
Mencintai Lingkungan Hidup
Beragam dan parahnya kerusakan lingkungan hidup seperti banjir bandang, tanah longsor, dan kurangnya oksigen dan air bersih akibat tingginya pencemaran udara dan air yang disebabkan asap kendaraan dan limbah pabrik, di masa mendatang sungguh-sungguh akan membahayakan diri dan “anak cucu” kita. Berbagai bencana alam dan bahaya yang mengancam kelangsungan hidup manusia itu sebagian besar akibat ulah manusia yang kurang memperhatikan kelestarian alam. Manusia dengan segala kemampuan dan fasilitas yang ada terus melakukan berbagai tindakan eksploitasi sumber daya alam yang menyebabkan kerusakan lingkungan hidup.

Terbangunnya sejak dini sikap-sikap, kebiasaan, dan juga semangat berperan serta menjaga keutuhan ciptaan, dan tumbuhnya rasa cinta pada lingkungan hidup merupakan tujuan pendampingan dalam pokok bahasan ini. Anak-anak diajak untuk sadar dan mau terlibat secara nyata, sesuai dengan usianya, dalam proses perawatan alam ciptaan yang secara utuh diberikan Tuhan untuk kesejahteraan manusia.

Baca juga: Latar belakang Tema "Mencintai Lingkungan Hidup"

4. Aku Bisa, Kamu Juga Bisa
Aku Bisa Kamu Bisa
Anak mempunyai kecenderungan tinggal pakai apa saja yang sudah tersedia, memilih dan menghendaki hal-hal yang instan atau lekas saji. Anak mengabaikan “proses menjadi” dan hanya berorientasi pada hasil jadi semata sehingga jerih payah dalam memperolehnya tidak menjadi perhatian. Anak yang berorientasi pada hasil biasanya tidak memiliki minat atau semangat untuk belajar, bahkan yang menyangkut harapan dan cita-citanya sekalipun.

Di samping itu, sering terjadi anak mudah iri hati bila melihat temannya mengalami keberhasilan atau lebih baik daripada dirinya. Rasa iri hati ini sangat mudah muncul karena kecenderungan manusia selalu ingin memusatkan segala sesuatu pada dan untuk dirinya sendiri serta menganggap orang lain sebagai pribadi di luar dirinya. Sebagai akibatnya, lahir sikap tidak mau peduli pada orang lain, dalam hal ini keengganan untuk menularkan kemampuan kepada yang lain.

Fokus pendampingan dalam tema ini adalah anak saling belajar dan saling mendidik. Untuk itu hubungan antar-pribadi yang sehat dan sikap menghargai anak-anak sangat diperlukan sebagai iklim yang kondusif untuk menumbuhkan pribadi yang beriman, bertanggung jawab, dewasa, serta mandiri, terlebih tumbuhnya kerelaan saling belajar dan saling berbagi kemampuan atau saling mendidik di antara anak-anak.

Baca juga: Latar belakang Tema "Aku Bisa Kamu Bisa"

5. Akrab dan Damai
Akrab dan Damai
Hidup bersama dalam keluarga dan masyarakat pada masa kini sangat rawan dengan munculnya aneka bentuk tindak kekerasan. Kekerasan dalam keluarga dan masyarakat (premanisme) serta pengalaman bias gender yang sering diamati atau dialami anak-anak dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi pengalaman buruk yang terbawa ke kehidupan mereka saat dewasa kelak.

Oleh karena itu, sangat penting untuk mengendalikan kecenderungan melakukan tindak kekerasan yang seringkali tampak sejak masa kanak-kanak. Pendampingan dalam pokok bahasan ini difokuskan pada upaya untuk menumbuhkan rasa cinta kasih dan saling menyayangi terhadap saudara dan sesama; dengan kerelaan mengambil beban yang sama antara laki-laki dan perempuan demi terciptanya keharmonisan hidup dalam keluarga.

Baca juga: Latar belakang Tema "Akrab dan Damai"

Baca juga:

Komponen Materi Suplemen Seri Emmanuel

Emmanuel adalah sebuah paket yang kompak dan komprehensif sebagai pegangan untuk
pendamping dalam kegiatan pendampingan iman anak yang terdiri dari paket tematis dan paket materi
suplemen untuk semua tema.

A• Paket tematis, terdiri dari:

B. Materi suplemen
Seri Emmanuel: Isi Paket Suplemen

Materi suplemen ini kami sediakan dalam paket terpisah sebagai kelengkapan Seri Emmanuel yang bisa
digunakan untuk semua judul. Paket ini terdiri dari:
1. boneka tangan Dovi (berbentuk merpati) dan Sheepo (berbentuk domba),
2. CD audio lagu rohani anak-anak dan VCD koreografi lagu-lagu rohani,
3. tiruan pakaian imam dalam ukuran anak-anak, dan
4. tiruan peralatan Ekaristi

1. Boneka tangan Dovi dan Sheepo
Boneka tangan Dovi dan Sheepo hadir sebagai penyegar suasana, daya tarik, dan tokoh dalam
dialog yang akan menemani dan memotivasi anak-anak selama kegiatan pendampingan iman anak
berlangsung.
Seri Emmanuel: Boneka Tangan Dovi dan Sheepo

2. CD nyanyian dan VCD koreografi
CD nyanyian berisi kompilasi nyanyian-nyanyian rohani sesuai dengan tema yang berfungsi untuk
menciptakan suasana santai, memancing perhatian dan minat anak, menumbuhkan kreativitas dan
rasa percaya diri anak, serta membantu pendalaman materi. VCD koreografi berisi kompilasi nyanyian-nyanyian rohani disertai gerakannya sebagai alternatif contoh bagi pendamping untuk melatih anak-anak
”menghidupkan” sebuah lagu.

3. Tiruan pakaian imam dalam ukuran anak-anak
Untuk mendekatkan sosok imam pada anak-anak, mengkonkretkan pengalaman sebagai imam,
menumbuhkan perhatian dan ketertarikan anak pada panggilan hidup bhakti yang selibat, dan
memperkuat pemahaman mereka, disediakan tiruan pakaian imam (alba, kasula, singel) dan stola
dalam empat warna liturgi dengan ukuran anak-anak. Tiruan pakaian imam ini bisa digunakan untuk
dramatisasi (contoh naskah drama tersedia) atau pementasan pada kesempatan-kesempatan tertentu.
Tidak ada ketentuan khusus dalam pembuatan pakaian imam, tetapi pakaian imam harus bisa
mengungkapkan simbol Ekaristi, syukur kepada Tuhan, indah, dan dapat pula mewadahi aspekaspek
budaya setempat.

4. Tiruan peralatan Ekaristi
Peralatan yang digunakan dalam ibadat atau perayaan Ekaristi terbuat dari logam yang disepuh
emas. Untuk mengkonkretkan pengenalan anak pada alat-alat Ekaristi/ibadat sekaligus memperjelas
pemahaman materi, disediakan tiruan peralatan misa yang terbuat dari bahan kayu dengan bentuk
dan warna menyerupai aslinya. Bahan kayu dipilih dengan pertimbangan ringan dan tidak mudah
pecah. Paket peralatan Ekaristi yang terdiri dari: piala, sibori, patena, dan sendok dilengkapi dengan
satu set pala lengkap ini bisa digunakan bersama-sama dengan paket tiruan pakaian imam dalam
aktivitas dramatisasi. Alat Ekaristi/ibadat lain dapat diadopsi dari bahan yang tersedia di lingkungan
sekitar (misal ampul; bisa digunakan gelas kaca kecil yang banyak dijual di pasaran dan harganya
relatif murah).

Baca juga:






Komponen Paket Tematis Seri Emmanuel

Emmanuel adalah sebuah paket yang kompak dan komprehensif sebagai pegangan untuk
pendamping dalam kegiatan pendampingan iman anak yang terdiri dari paket tematis dan paket materi
suplemen untuk semua tema.

A• Paket tematis, terdiri dari:
1. poster berukuran 70 cm x 100 cm dilengkapi dengan kartu-kartu gambar,
2. buku pegangan pendamping, dan
3. buku-buku pendukung atau materi lain nonbuku yang sesuai tema.

Poster Seri Emmanuel
1. Poster Emmanuel
Membingkai semua materi dan aktivitas dari masing-masing tema. Dengan ilustrasi yang atraktif dan
detail diharapkan anak-anak tertarik untuk bereksplorasi. Dilengkapi dengan kartu-kartu gambar
(gambar kilas dan/atau kartu gambar/kosakata dalam ukuran lebih kecil), semuanya berfungsi untuk
memperjelas pemahaman anak dan memfasilitasi berbagai latihan dan aktivitas.

2. Buku pegangan pendamping
Buku Pegangan
Karakteristik:
Buku pendamping seri Emmanuel ini merupakan alternatif panduan bagi para pendamping dalam kegiatan pendampingan iman anak kristiani yang terdiri dari lima judul yakni:
1. Ke Gereja, Yuk!
2. Biar Beda Tetap Bersahabat
3. Mencintai Lingkungan Hidup
4. Aku Bisa, Kamu Juga Bisa
5. Akrab dan Damai

3. Buku-buku pendukung atau materi lain nonbuku yang sesuai pokok bahasan.
Setiap paket judul dilengkapi dengan buku-buku pendukung atau materi lain nonbuku yang sesuai
pokok bahasan untuk memantapkan dan memperkaya pemahaman, wawasan, dan keterampilan
anak. Untuk paket ”Ke Gereja, Yuk!” ini kami lengkapi dengan 3 buku seri Pendidikan Liturgi untuk
Pelengkap Tematis
Anak SD, dengan judul:
1. Apa Beda Liturgi, Ibadat, dan Doa?
Pelengkap Tematis
2. Apa Sih Alat-alat Ibadat Itu?
Pelengkap Tematis
3. Yuk, Bersama-sama Merayakan Ekaristi

B. Materi suplemen


















Baca juga:




Konsep Materi dan Tema Seri Emmanuel

,
Berbagai Komponen Isi Tema Seri Emmanuel

Materi dalam setiap judul buku dirancang bukan untuk melatih anak menghafal tapi untuk memotivasi mereka bereksplorasi dan berkreasi. Dengan menghormati kekhasan anak yang masih hidup dalam dunia bermain, materi yang disajikan bersuasana rekreatif dan menyenangkan.

+ Tiap judul meliputi ajaran Gereja, cerita, kutipan Kitab Suci, doa, nyanyian, permainan dengan gambar, aktivitas motorik, kreativitas, drama, dan copymaster.

+ Keragaman metode dan sarana dalam buku-buku pendamping tersebut bertujuan untuk
1. menciptakan hubungan yang mendukung perkembangan pribadi dan iman anak,
2. mengembangkan kesadaran akan nilai-nilai moral kristiani,
3. mengembangkan pemahaman dan penghayatan liturgi,
4. memupuk harga diri yang sehat dan wajar, dan
5. mengembangkan bakat dan keterampilan.

+ Dengan tersedianya copymaster (yaitu lembar kerja yang bisa difotokopi sebagai media latihan, permainan, dan keterampilan) dilengkapi dengan petunjuk untuk semua aktivitas, diharapkan pendamping akan mendapatkan buku dengan contoh metode dan sarana yang cukup variatif dan siap pakai yang bisa langsung diaplikasikan atau dikembangkan menurut kreativitas dan kebutuhan masing-masing.

+ Judul-judul dalam seri Emmanuel yang kami angkat ini merupakan pengolahan dari kebutuhan, kerinduan, dan pengalaman hidup anak dalam dunia mereka. Kami menyediakan lima judul dengan penyajian yang terpisah dan tidak berjenjang satu sama lain sehingga pendamping bebas memilih judul yang akan digunakan.

+ Tanpa berpedoman pada ”silabus”, pendamping dapat bebas mengangkat pokok-pokok bahasan yang akan digunakan dan bebas pula mengembangkan sesuai kreativitas dan kebutuhan masing-masing.

+ Penyusunan buku pendamping dan semua materi pendukungnya ini mempertimbangkan masa liturgi Gereja, keprihatinan-keprihatinan Gereja Indonesia (hasil SAGKI 2005), psikologi anak, dan kecenderungan zaman ini.

Baca juga:







Total Pageviews

Temukan Tips Tentang

5 roti dan 2 ikan Abraham Adam Akrab Damai Aku Bisa Kamu Bisa aku percaya alat peraga alat-alat liturgi alba amice amik anak yang hilang baptis belajar bersama berbagi berdoa Biar Beda Bersahabat biarawan biarawati BIleam boneka tangan Cerita collar copy master corporale Daud Dialog doa katolik doa kemenangan Domino Dovi Ekaristi Esau Ester Firman flash card gender gereja gereja dan hidup kristiani Gereja Katolik Goliat Gomora Hawa hidup kristiani I Love Bible I'm Christian I’m Christian imam iman Injil Ishak jubah Kain Flanel Kanaan kardinal kartu kwartet kartu pendapat karya Yesus kasula Kata Tersembunyi Katekismus Katolik Ke Gereja Yuk keakraban kedamaian Kejadian kelahiran Yesus keragaman kesehatan ilahi kesetaraan ketopong keselamatan Kipas Kasih Sayang Kitab Suci Kitab Suci dan Tradisi kolar Kompendium Katekismus kongregasi Latar Belakang Lea liturgi Logico Lukas Matius media ajar memaafkan membahagiakan Mencintai Lingkungan Hidup mendoakan anak menghargai menyembuhkan orang sakit menyerahkan anak Mesir minggu palma Misa Kudus mujizat murid Yesus Musa Naomi narasi Natal orang tua orang tua yang berdoa ordo pakaian imam pakaian liturgi palla palma Pantokrator patena patung lembu emas paus Paus Benedictus XVI peduli pekan suci pembaptisan pendampingan iman anak pendeta pendidikan iman Katolik Perayaan Ekaristi perbedaan perjamuan terakhir Perjanjian Baru Perjanjian Lama permainan edukatif persahabatan perumpamaan piala pocket story poster mencintai lingkungan hidup puncak hidup umat purifikatorium Rahel Ribka rohaniwan rohaniwati Rut Sakramen Baptis salib Sara saudara Saul sekolah minggu Seri Emmanuel Sheepo sibori Simson singel Sodom Stavronikia Monastery stola Sumber hidup Suplemen Syahadat Para Rasul syahadat singkat tanda perlindungan Tema The Icon of Christ Theophanos of Creta Tradisi Tuhan Yesus Dengarlah Doaku Yakub Yerikho Yerusalem Yesus Yesus disalib Yesus naik surga Yosua Yunus Yusuf