Latest Updates
Tampilkan postingan dengan label Latar Belakang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Latar Belakang. Tampilkan semua postingan

Latar belakang Tema "Mencintai Lingkungan Hidup"

Poster Mencintai Lingkungan Hidup
Bencana alam yang terjadi di mana-mana dewasa ini ternyata merupakan akibat ulah manusia yang tak bertanggung jawab. Ada sebagian manusia yang rakus dan tidak peduli terhadap sesamanya telah menggunduli hutan untuk dikuras kayunya, mencemari sungai dengan limbah industri dan limbah rumah tangga, mencemari udara dengan asap kendaraan bermotor, dan sebagainya. Hal semacam ini menjadi perilaku orang zaman sekarang dan dampaknya sungguh merugikan orang-orang di lingkungan sekitar.

Sementara itu, masih banyak anak yang perlu dibuka kesadarannya bahwa dampak kerusakan lingkungan hidup itu sudah amat dirasakan belakangan ini, termasuk di antaranya intensitas terjadinya banjir yang semakin meningkat, udara yang semakin panas, cuaca yang semakin tidak menentu, badai dan bencana alam lainnya, sulitnya air bersih terutama di kota-kota besar, tumpukan sampah yang menggunung di jalan dan sungai-sungai, serta hutan-hutan yang semakin gundul. Oleh karena itu, sejak dini haruslah dibangun sikap, semangat dan perilaku menjaga lingkungan hidup sebagai upaya melestarikan keutuhan ciptaan.

Baca juga:

Latar belakang Tema "Biar Beda Tetap Bersahabat"

Poster Biar Beda Tetap Bersahabat
Perbedaan adalah hal yang amat biasa di alam semesta ini. Tanpa adanya perbedaan betapa akan menjemukan keadaan alam semesta. Dengan adanya perbedaan memungkinkan variasi yang menyenangkan. Kenyataan yang ada di dunia ini menunjukkan bahwa walaupun ada perbedaan manusia satu sama lain saling membutuhkan dan melengkapi.

Namun sayangnya, manusia cenderung berteman dan bergaul dengan orang-orang yang sesuai dengan keinginannya, entah dalam hal minat, hobi, keyakinan ataupun agama. Ada sebagian orang yang beranggapan bahwa siapa saja yang tak termasuk kelompoknya bukanlah teman atau saudaranya. Jika sikap semacam ini yang dihayati oleh banyak orang, maka pertentangan atau pertengkaran di manamana akan mudah terjadi. Kebalikan dari sikap ini ialah kesiapan menerima perbedaan bukan sebagai masalah tetapi sebagai hal yang wajar, mengingat kita hidup dalam dunia yang penghuninya berasal dari berbagai suku dan budaya; menganut berbagai agama dan aliran kepercayaan; mempunyai beragam ciri fisik dan tingkat ekonomi; dan terdiri dari dua jenis kelamin.

Dari semua perbedaan yang disebutkan di atas, akhir-akhir ini perbedaan agamalah yang paling mudah atau paling sering menimbulkan masalah. Ada banyak agama dan aliran kepercayaan di Indonesia, baik agama Katolik, Kristen, Islam, Hindu, Budha, Khonghucu, dan berbagai aliran kepercayaan. Masing-masing agama dan aliran kepercayaan itu memang memiliki keunikan dan tata cara beribadat yang berbedabeda, namun sebenarnya pribadi mahatinggi yang disembah oleh berbagai agama dan kepercayaan itu satu dan sama. Karena sebagai manusia kita diciptakan oleh pribadi ilahi yang sama, maka bisa juga kita meyakini bahwa semua manusia, apapun agama dan kepercayaannya, adalah sama-sama keturunan Adam dan Hawa yang dulu diciptakan Allah dan ditempatkan di Taman Eden. Dengan demikian, semua manusia itu sebenarnya satu saudara, sama-sama citra Allah dan sama pula martabatnya.

Karena kita semua adalah saudara, walaupun di antara kita terdapat berbagai perbedaan, kita semua layak berada dalam kesatuan seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri Negara Republik Indonesia. Cita-cita persatuan dan kesatuan itu telah dituangkan melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 45 yang berarti ”Walaupun Berbeda-beda tetapi Tetap Satu Jua”.

Adanya perbedaan, jika hal itu diterima sebagai hal yang wajar maka tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika perbedaan itu ditolak dan ada yang mau menyeragamkan, mulailah ada masalah karena yang satu akan merasa lebih tinggi dan yang lain direndahkan. Kita sebagai citra Allah yang merupakan satu saudara keturunan Adam dan Hawa, dan sebagai warga negara Indonesia yang telah dipersatukan dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” sebaiknya sejak dini menumbuhkan dan memupuk kesadaran untuk menghargai semua orang dan mempererat persahabatan tanpa mempermasalahkan perbedaan-perbedaan yang ada. Itulah makna ”Biar Beda Tetap Bersahabat”.

Baca juga:


Latar belakang Tema "Aku Bisa Kamu Bisa"

Latar belakang Tema Aku Bisa Kamu Bisa

Poster Aku Bisa Kamu Bisa
Kecenderungan umum yang mudah dijumpai dalam diri anak ialah segala sesuatu cepat tersedia. Mereka hanya mau memetik hasil tanpa menyadari bahwa segala sesuatunya perlu diupayakan dengan tekun (mau berjerih payah). Pentinglah, sejak dini ditaburkan dalam diri anak semangat mau menanam, menumbuhkan, dan memelihara sampai dapat memetik hasilnya, sehingga dia tidak hanya memetik hasil tetapi juga rela atau berani mengupayakan. Dalam diri anak diharapkan tumbuh semangat “berproduksi” dan bukan sekedar “mengonsumsi”, tekun belajar guna mencapai cita-cita atau sikap mau berjerih payah guna mencapai keberhasilan, tidak egois atas apa yang sudah dicapainya dan mau menolong teman-temannya yang belum mencapai keberhasilan. Anak dapat bergembira bersama atas keberhasilan teman-temannya berkat bantuannya. Maka, dalam diri anak perlu ditanamkan sejak dini semangat merasa gembira setelah melakukan hal yang baik sehingga dia bergairah untuk melakukan kebaikan dengan mengajar atau melatih teman yang belum mampu (bukan hanya merasa senang atau bergembira kalau menerima sesuatu dari orang lain).

Untuk memungkinkan dan memudahkan anak mau menolong temannya yang belum berhasil, sebelumnya perlu ditumbuhkan “semangat berbagi” yaitu rela (tidak kikir) membagikan yang telah dicapainya kepada orang lain, sehingga keberhasilan tersebut dapat dinikmati bersama dalam rasa syukur dan kehangatan persaudaraan. Tanpa ini, anak akan membiarkan saja teman-temannya ketinggalan atau bahkan menjegal temannya yang hampir berhasil, agar ia tetap menempati kedudukan terunggul. Anak perlu dilatih dan disadarkan bahwa dengan membagikan kemampuannya (keterampilan dan pengetahuan), ia akan semakin unggul dengan kemampuannya itu. Tanpa memiliki semangat berbagi, ada bahaya bahwa anak ini, setelah berhasil menjadi orang “sukses”, tetap egois atau hanya mengejar kepentingan dirinya sendiri tanpa peduli dan tidak bersedia menolong yang mengalami kesulitan. Semangat berbagi diharapkan dapat
mendasari semangat anak untuk mengajar dan melatih teman-temannya berdasarkan inspirasi Yoh 6:1-15, yaitu anak kecil yang menyerahkan 5 roti dan 2 ikannya kepada Yesus untuk dibagi-bagikan kepada
orang-orang lapar yang ada di sekitarnya. Semangat anak kecil inilah yang mau diperkenalkan kepada anak-anak peserta pendampingan iman anak (BIAK, Sekolah Minggu) dan sebagainya.

Tema “Aku bisa, kamu juga bisa” diharapkan dapat membuahkan orang-orang yang senang berbagi kemampuan (pengetahuan dan keterampilan) dan membuahkan insan-insan pendidikan, baik dalam lingkup
informal maupun formal, lingkup keluarga maupun sekolah, masyarakat maupun Gereja. Sikap pokok ini perlu dipahami dan dihayati oleh para pendamping pendampingan iman anak sehingga siap memperkenalkan
dan menumbuhkannya pada anak-anak yang didampingi.

Melalui gambar-gambar ditunjukkan contoh:
1. kegiatan dalam keluarga yang saling berbagi kemampuan dan pengetahuan, baik antara anak dengan orangtuanya, anak dengan kakaknya, maupun anak dengan adiknya,
2. kegiatan dalam lingkup sekolah yang saling berbagi kemampuan dan pengetahuan, baik antara anak dengan gurunya maupun anak dengan teman-temannya, dan
3. kegiatan dalam lingkungan bermain yang saling berbagi kemampuan dan pengetahuan, baik antara anak dengan teman sebaya, anak dengan teman yang lebih tua, maupun anak dengan teman yang lebih muda.

Baca juga:



Latar Belakang Pemikiran Tema "Akrab dan Damai"

Latar Belakang Pemikiran Tema

TENTANG AKRAB DAN DAMAI

Buku Panduan Akrab dan Damai
Hidup itu amatlah berharga. Oleh karena itu manusia selalu berusaha mempertahankan hidupnya. Kalau sakit atau terancam nyawanya ia akan selalu mencoba untuk mempertahankan hidupnya dengan berobat, perawatan, dan kalau perlu dengan senjata untuk mempertahankan hidupnya.

Masyarakat kita sangat menjunjung tinggi kehidupan. Oleh sebab itu, mereka berusaha mengamankan hidupnya (dengan menjaga hubungan yang selaras) dengan sesamanya,  dengan lingkungannya, dan dengan dunia adikodrati. Mereka juga berusaha melanggengkan hidupnya melalui keturunan. Kehidupan itu sungguh bernilai. Manusia tidak akan menyia-nyiakannya atau mempertukarkannya dengan hal-hal yang lain.

Pertanyaan mengenai makna hidup bukanlah hal yang baru. Pertanyaan itu selalu ada namun demikian, tampaknya pertanyaan itu menjadi jauh lebih sulit bagi manusia dewasa ini. Sebab kini manusia hidup di tengah-tengah lingkungan dunia yang terlampau luas. Bahkan tak terjangkau lagi olehnya. Terlebih lagi dewasa ini banyak sekali tawaran yang menyodorkan jawaban yang berbeda-beda. Bidang kehidupan seperti bekerja, keluarga, rekreasi, hubungan antar manusia dan sebagainya sering terasa tidak berhubungan lagi satu dengan yang lainnya.

Di dalam dunia yang semakin berkembang ini manusia dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan tentang perkembangan dunia modern, tentang tempat dan peranan manusia di alam semesta, tentang arti usaha-usaha baik secara perorangan ataupun bersama-sama dan akhirnya tentang tujuan akhir dunia dan manusia ini.

Manusia bukan hanya penghuni dunia dan alam semesta. Manusia mengolahnya, hidup darinya, dan bertanggung jawab atasnya. Oleh karena itu, manusia diberi kepercayaan untuk ikut “menciptakan” dunia, maka dunia harus senantiasa baru dan harus sesuai dengan tujuan hidup manusia. Dalam dunia macam ini Tuhan mempercayakan manusia mengurus dunia ini sendiri.

Akhir-akhir ini, sikap kasar terhadap hidup, cukup merebak di tanah air kita. Anak-anak muda sepertinya tertarik terhadap film-film, berita-berita, dan peristiwa-peristiwa yang bernafaskan kekerasan. Hal-hal seperti ini perlu diwaspadai diantisipasi penanganannya secara lebih dini dan tepat.

Mengupayakan keadaan yang damai merupakan kewajiban orang Kristen dalam mewujudkan iman mereka akan Kristus yang adalah “damai sejahtera kita” yang “merubuhkan tembok pemisahan, yaitu perseteruan” dan yang mengajar para pengikutnya: “Berbahagialah yang membawa damai” (Mat 5:9).

Baca juga:


Latar belakang Tema "Akrab dan Damai"

Buku Panduan Akrab dan Damai
Dewasa ini di segala bidang kehidupan banyak situasi yang sangat memprihatinkan seperti, terjadinya perselisihan, pertikaian, permusuhan, kekerasan, dan sebagainya, antara yang mayoritas dengan yang minoritas, antara yang kaya dengan yang miskin, bahkan antar suku, agama, dan ras (istilahnya SARA).

Situasi seperti ini menjadikan relasi antar pribadi menegangkan, tidak nyaman, tidak membawa kehagiaan, bahkan menimbulkan kecemasan. Orang menjadi takut untuk berelasi dan berkomunikasi dengan sesamanya karena ada kecurigaan satu sama lain. Orang berada dalam situasi terkotak-kotak satu sama lain, bahkan beranggapan bahwa orang yang tidak seagama, sealiran, sepaham dianggap musuh yang harus disingkirkan dan dihancurkan.

Situasi seperti di atas juga menjangkiti kehidupan anak zaman sekarang. Anak kurang menaruh hormat kepada orangtua, kurang dapat menghargai orang yang lebih tua, tidak dapat bersahabat dengan temannya, tidak dapat berkata halus dan sopan dengan orang lain, melakukan tindak kekerasan kepada teman yang miskin atau lemah dan sebagainya. Mengapa hal itu terjadi? Jawabannya antara lain karena anak hampir setiap hari dipengaruhi acara televisi, video game (play station), dan game online yang menyuguhkan kekerasan. Selain itu, ini masih ditambah lagi dengan pengaruh suasana dalam keluarga sendiri atau masyarakat yang cenderung juga melakukan kekerasan seperti itu.

Apa yang perlu dilakukan untuk membantu anak dalam mengatasi kecenderungan buruk yang justru semakin bertambah ini? Untuk itu, baiklah kalau sejak dini anak disadarkan untuk membangun dan mengembangkan semangat akrab dan damai dalam hidupnya sendiri, keluarganya, dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Keakraban dan kedamaian inilah yang perlu bisa dialami dan dihayati oleh anak dalam hidupnya sehari-hari. Anak akan bisa akrab dengan sesamanya kalau ia mampu berelasi dan berkomunikasi dengan baik dan hangat. Berkat keakraban ini anak akan bisa mengalami damai yang membahagiakan, sehingga anakpun akan bisa merasa nyaman dan bahagia hidup bersama orang lain. Lebih dari itu, anak juga memiliki kecenderungan melakukan hal-hal positif terhadap dan bagi orang lain sehingga membahagiakan hidup bersama.

Baca juga:


Latar belakang Tema "Ke Gereja Yuk!"


Makna Baptisan
Anak-anak Katolik kenyataannya sudah dibaptis tanpa mereka sadari. Mereka ini perlu dibantu menyadari baptisan yang telah diterimanya sehingga merasa senang dan bangga akan kondisi berahmat itu, mensyukurinya serta tergerak untuk berusaha hidup sesuai rahmat baptisan yang telah diterimanya.

Tanpa bantuan proses penyadaran ini, ada bahaya di kemudian hari mereka menyalahkan orangtuanya yang telah mengupayakan baptisan bagi dirinya dan beranggapan bahwa orangtuanya telah melanggar hak asasinya dalam hal pemilihan agama, manakala mereka mengalami keadaan yang dirasa tidak menguntungkan berkaitan dengan baptisan yang telah diterimanya. Sikap semacam ini akan membuat orang yang bersangkutan tidak kerasan dengan agama yang telah dipilihkan oleh orangtuanya dan membawa mereka menjadi orang yang hanyut saja pada rutinitas hidup beragama tanpa usaha menghayatinya. Suatu keadaan yang cenderung membuat seseorang menjadi penonton belaka dalam kehidupan beragamanya termasuk ketika menghadiri perayaan Ekaristi yang setiap hari Minggu mesti dilakukannya.

Menanggapi kenyataan ini anak-anak Katolik selain perlu mendapat pemahaman akan makna baptis, perlu pula mendapat pemahaman latar belakang diterimanya baptis dan tujuan menerima baptis, beserta konsekuensi mereka yang sudah menerima baptis. Tentu saja pengetahuan sejauh masih berada dalam jangkauan usia anak-anak.

Merayakan Ekaristi
Selain itu, dewasa ini ternyata cukup banyak orang Katolik dan anak-anak yang ”nonton” Misa di gereja dan ”belum” merayakan Ekaristi. Kurang memadainya pemahaman mereka akan makna Ekaristi beserta seluk beluknya kiranya menjadi faktor penyebab keadaan yang memprihatinkan ini. Kurang memadainya pemahaman mereka akan makna Ekaristi dan seluk beluknya membuat mereka cenderung kurang terlibat di dalam Ekaristi dan tingkah lakunya dalam perayaan Ekaristi sering hanya didominasi oleh rasa senang atau tidak senang belaka. Mereka ini maunya ”menonton”, enggan melakukan ”renungan” sehingga pada gilirannya tidak memetik manfaat Ekaristi bagi dirinya sendiri, imannya pun cenderung tetap dangkal. Lebih disayangkan lagi, mereka biasanya kurang peduli akan tugas perutusan yang diterima dari Tuhan pada akhir Perayaan Ekaristi sehingga tak mengherankan bahwa Ekaristi yang diikutinya tidak berdampak dalam hidup sehari-harinya. Akibat lebih lanjut, terjadi pemisahan antara kehidupan ibadatnya dengan kehidupan sehari-hari dan kesadaran imannya tak mewarnai kata-kata, tingkah laku dan tindakantindakan dalam hidupnya.

Menanggapi keadaan tersebut, disusunlah bahan pendampingan bagi anak-anak Katolik ini agar mereka paham akan Ekaristi beserta seluk-beluknya sehingga dengan demikian mereka senang berliturgi Ekaristi dan terlibat aktif di dalamnya, termasuk juga rela melaksanakan tugas perutusan yang diterima setelah orang mendapat berkat dari Tuhan sebagai bekal perutusannya.

Baca juga:


Latar Belakang Penerbitan Emmanuel

Seri Emmanuel-Pegangan Guru

Anak-anak kristiani Indonesia sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang untuk dapat tumbuh dan berkembang dalam segala aspek kehidupannya. Ke dalam kehidupan mereka di masa depan itulah masa depan Gereja dipercayakan. Dalam kondisi masa kini, anak-anak yang masih dalam usia sekolah memegang peran penting untuk menjadi bagian dari karya keselamatan Allah dan mewujudkan Kerajaan Allah di dunia. Tanggung jawab inilah yang secara alamiah terletak di pundak mereka, sedangkan tugas generasi sebelumnya adalah meletakkan dasar, menemani, dan menunjukkan bagian-bagian terbaik yang dapat menjadi jalan bagi perkembangan keutamaan anak-anak tersebut.

Melalui kegiatan pendampingan iman anak, atau di beberapa keuskupan lazim juga disebut Sekolah Minggu, diharapkan anak-anak kristiani akan mendapat kesempatan untuk semakin mendalami sikap dan wawasan iman kristiani, sehingga pada akhirnya tumbuh rasa senang dan bangga atasnya, serta mampu mengungkapkan dan mewujudnyatakan iman tersebut sesuai usia mereka. Nilai-nilai ini sangat penting ditanamkan sejak dini, mengingat keterbukaan mereka pada tahap usia ini besar dan ingatan mereka masih kuat, sehingga nilai ini bisa menjadi bekal dan pedoman perilaku hidup mereka di masa mendatang.

Seri Emmanuel - Contoh Kemasan dan Isi
Dalam rangka menyiapkan generasi masa depan yang sungguh mampu secara jasmani, rohani, dan spiritual mengemban tugas itu, Emmanuel hadir dan menjawab kebutuhan sarana yang diharapkan dan khas bagi kehidupan anak-anak kristiani. Beragam sarana dan panduan aktivitas yang tersedia dalam paket ini diharapkan bisa memfasilitasi pendamping dalam mendampingi anak-anak belajar dan bermain secara menarik sehingga mereka akan mencintai kegiatan pendampingan iman anak dan sekaligus termotivasi untuk menemukan sendiri nilai dan pengetahuan yang ditanamkan.

Emmanuel adalah sebuah paket yang kompak dan komprehensif sebagai pegangan untuk pendamping dalam kegiatan pendampingan iman anak yang terdiri dari paket tematis dan paket materi suplemen untuk semua tema.


Total Pageviews

Temukan Tips Tentang

5 roti dan 2 ikan Abraham Adam Akrab Damai Aku Bisa Kamu Bisa aku percaya alat peraga alat-alat liturgi alba amice amik anak yang hilang baptis belajar bersama berbagi berdoa Biar Beda Bersahabat biarawan biarawati BIleam boneka tangan Cerita collar copy master corporale Daud Dialog doa katolik doa kemenangan Domino Dovi Ekaristi Esau Ester Firman flash card gender gereja gereja dan hidup kristiani Gereja Katolik Goliat Gomora Hawa hidup kristiani I Love Bible I'm Christian I’m Christian imam iman Injil Ishak jubah Kain Flanel Kanaan kardinal kartu kwartet kartu pendapat karya Yesus kasula Kata Tersembunyi Katekismus Katolik Ke Gereja Yuk keakraban kedamaian Kejadian kelahiran Yesus keragaman kesehatan ilahi kesetaraan ketopong keselamatan Kipas Kasih Sayang Kitab Suci Kitab Suci dan Tradisi kolar Kompendium Katekismus kongregasi Latar Belakang Lea liturgi Logico Lukas Matius media ajar memaafkan membahagiakan Mencintai Lingkungan Hidup mendoakan anak menghargai menyembuhkan orang sakit menyerahkan anak Mesir minggu palma Misa Kudus mujizat murid Yesus Musa Naomi narasi Natal orang tua orang tua yang berdoa ordo pakaian imam pakaian liturgi palla palma Pantokrator patena patung lembu emas paus Paus Benedictus XVI peduli pekan suci pembaptisan pendampingan iman anak pendeta pendidikan iman Katolik Perayaan Ekaristi perbedaan perjamuan terakhir Perjanjian Baru Perjanjian Lama permainan edukatif persahabatan perumpamaan piala pocket story poster mencintai lingkungan hidup puncak hidup umat purifikatorium Rahel Ribka rohaniwan rohaniwati Rut Sakramen Baptis salib Sara saudara Saul sekolah minggu Seri Emmanuel Sheepo sibori Simson singel Sodom Stavronikia Monastery stola Sumber hidup Suplemen Syahadat Para Rasul syahadat singkat tanda perlindungan Tema The Icon of Christ Theophanos of Creta Tradisi Tuhan Yesus Dengarlah Doaku Yakub Yerikho Yerusalem Yesus Yesus disalib Yesus naik surga Yosua Yunus Yusuf